Slider[Style1]

Puisi

Resep Masakan

Resep Jajanan

Tips dan Trik

Kuliner

Cerpen Sedih dan Romantis Say Love

Cerpen Sedih dan Romantis Sai Love - Kumpulan cerpen sedih dan romantis, cerpen pendidikan, Cerpen yang sedih dan romantis dari prawesthi. Bagi temen-temen ini cerita pendek yang ingin aku share ke temen-temen, tentang kisah cerpen yang sedih dan romantis yang berjudul Say Love...

Cerpen Sedih dan Romantis Say Love


Say Love, By Prwesthi

Takdir, aku percaya itu sepenuhnya.Pertemuan dan perpisahan, adalah bagian dari takdir. Tak ubahnya kebahagiaan yang menghampirimu saat kau bersama orang yang kau sayangi. Tapi saat takdir itu membuatku menangis, jatuh, terpuruk, aku tak ingin mempercayainya, aku ingin percaya bahwa itu hanyalah suatu kebetulan. Tapi nyatanya, di dunia ini tidak ada kebetulan, hanya ada takdir...

Sore ini, kuintip jendela kelasku, kulihat semburat warna langit yang cerah berwarna orange. Indah, tapi tak begitu kusuka, menurutku warnanya membuat hatiku sendu, sedih. Ku berjalan dari ruang kelasku, melewati koridor menuju halaman depan.
Tak terlalu kuperhatikan jalan maupun orang-orang di sekitarku yang berhamburan ingin segera pulang ke rumah masing-masing, setelah kegiatan ekstrakurikuler yang melelahkan, maupun karena jam tambahan.
Tiba-tiba, aku merasakan diriku menabrak sesuatu, bukan tembok, karena kurasakan ada sebuah tangan yang menahan pinggangku hingga aku tak melesat ke tanah. Lalu tangan itu membantuku membenarkan posisiku hingga aku berdiri dengan normal lagi.
“Rose?” sosok familiar di depanku memberiku ekspresi penuh tanya, suaranya begitu lembut dan perhatian
“Ah, Sam...” nadaku lemah, mungkin ekspresiku sangat buruk sekarang
“Kamu mau pulang?” seakan membaca pikiranku, ia tau bahwa aku tak ingin membicarakan tentang hal yang akhir-akhir ini ditanyakan orang padaku, tentang Nara.
“Iya, mungkin jalan kaki. Aku ngga bawa mobil hari ini.”
“Mau aku anter?”
“Tapi, aku lagi pengen jalan kaki.”
“Aku temani?”
“Mobilmu?”
“Aku telfon orang buat ngambil” ia menatapku lekat-lekat “ya?”
“Oke”

Lalu kami berjalan, diam, namun sama sekali bukan diam yang kikuk. Namun diam yang seakan-akan memanggil kembali memori di masa kecil kami, saat kami selalu pulang sekolah bersama, terkadang kami main hingga petang, lalu ia dimarahi ibuku , tapi herannya ia selalu tertawa setelah dimarahi, seakan tidak menyesal telah mengajakku bermain hingga petang. Dan lebih herannya lagi, ibuku pun selalu mengijinkanku bermain bersamanya.
Dulu kami selalu bersama, bermain, sekolah, belajar di rumah, hampir setiap waktu kami selalu bersama.
Masih tersimpan jelas di memoriku saat-saat ia selalu menjagaku, ia melindungiku dari sekelompok anak nakal yang ingin merebut es krim-ku. Dengan berani, ia menyuruh mereka untuk berhenti menggangguku, ia sangat berani, walaupun tau ia kalah jumlah. Sebaliknya, aku sangat pengecut, hanya bisa menangis dan mengintip dari balik bahunya. Mereka memang tidak jadi merebut es krim-ku, namun sebagai gantinya mereka mengajak Sam berkelahi, keroyokkan. Mereka mendorong Sam hingga menabrakku dan menjatuhkan es krim-ku, lalu aku menangis keras, hingga merebut perhatian orang-orang, dan anak-anak itu pun kabur. Lalu Sam menghampiriku dan berkata ‘Rose, maaf, es krim-mu jatuh. Aku beliin lagi ya? Jangan nangis...’

Aku menghentikan langkahku saat kami tiba di sebuah taman yang dipenuhi bunga matahari. Tempat ini belum berubah, tempat dimana dulu kami sering bermain kemari saat masih duduk di bangku SD. Kupandangi hamparan bunga matahari yang terlihat lebih indah saat terkena cahaya matahari yang hampir terbenam.
“Rose?” Sam menghentikan langkahnya, lalu berjalan menghampiriku dan berhenti tepat di hadapanku.
“Kamu inget ngga, dulu kita sering main kesini?” aku tersenyum lemah, mengingat masa kecil kami. Ia mengangguk.
“Kamu ngga apa-apa kan?” raut wajahnya sama seperti biasa, raut wajah yang selalu mengkhawatirkanku “Rose?”
“Nara-“ kurasakan kedua mataku panas, pandanganku kabur, dan baru sadar bahwa aku sedang menangis saat kurasakan air mataku jatuh, membasahi pipiku. “Aku putus sama dia...”

Ia menyodorkan sapu tangan padaku, lalu diusapnya pipiku menggunakan sapu tangannya. “Aku tau...” jawabnya.
“Aku tau, papanya ngga pernah setuju sama hubungan kami. Tapi, dia ngga pernah sekalipun nyoba buat ngeyakinin papanya, ngga pernah sekalipun ngijinin aku buat ngambil hati papanya biar dia bisa nyetujuin hubungan kami.” Air mataku mengalir deras tak terkendali “Akhirnya... Akhirnya dia lebih miilih buat ninggalin aku. Padahal, kami sama sekali belum pernah nyoba buat ngeyakinin papanya, belum pernah sekalipun...” setelah ia membiarkanku menangis untuk beberapa saat, akhirnya ia mulai bicara...
“Rose... Aku senang kamu putus sama Nara.” Mataku terbelalak, nafasku tertahan untuk sesaat, kupandangi ia dengan tatapan tak percaya.

“Sam??” kusipitkan mataku, menuntut jawaban.
“Aku senang kamu putus ama dia. Tapi, aku ngga bisa liat kamu sedih, nangis.” Aku bingung, apa yang sedang ia bicarakan?’“Apa kamu inget? Dulu, waktu kita kecil, kamu sering banget nangis. Tapi kamu langsung diem kalo aku kasih es krim.” Ia tertawa kecil, lalu tersenyum dan memandangku lembut.
“Iya...” aku pun tersenyum, mengingat kembali memori tersebut dan mengabaikan kebingunganku “Aku juga inget, dulu aku pernah jatuh pas kita main kejar-kejaran. Lututku berdarah, trus nangis.” lalu Sam di masa kecil menghampiriku dengan ekspresi penuh kekhawatiran ‘Rose? Sakit ya? Jangan nangis...’ aku yang cengeng, bukannya diam malah menangis semakin keras. Lalu ia menawarkanku untuk naik ke punggungnya ‘Ayo, aku gendong kamu pulang.’ Dan ia benar-benar menggendongku ke rumah, namun berhenti di jalan untuk membelikanku es krim, dan aku menikmati es krimku sembari digendong olehnya, melupakan rasa sakit di lututku.
“Tapi kamu udah jarang nangis sejak masuk SMA. Sejak kamu kenal Nara, sejak kamu mulai jauh dari aku, sejak kita ngga pernah main berdua lagi.”

“Sam...”
“Aku ngga tau, aku harus seneng ngeliat kamu bahagia, atau harus sedih kita ngga bisa main bareng kaya dulu lagi.” Ia tersenyum sedih “yang aku tau, aku ngga suka liat kamu nangis. Aku rela ngapain aja, mbeliin kamu es krim sebanyak mungkin, atau apapun, asalkan kamu ngga nangis.”
“Kenapa?”

“Karena, kalo kamu sedih, aku juga sedih.” Ia menempelkan telapak tangan kanannya pada dada kirinya “Di sini, jadi sakit.” Lalu diraihnya kedua tanganku, dan ditatapnya mataku lekat-lekat “Aku ngga mau kamu sedih, Rosalie...” Ia tetap sama dengan Samuel yang dulu, Samuel yang aku kenal sejak kami berumur 6 tahun, Samuel yang selalu mengkhawatirkanku, menjagaku, dan mengatakan ‘jangan nangis, Rose...’ atau ‘aku beliin es krim, ya?’ untuk membuatku berhenti menangis. Lalu aku sadar, kalau selama ini aku melakukan kesalahan, kesalahan yang tak termaafkan. Karena aku telah mengabaikannya selama dua setengah tahun terakhir, walaupun aku tak berniat demikian. Aku hanya terlalu sibuk dengan cinta pertamaku, Nara. Dan lambat laun aku semakin jauh dari Sam, frekuensi pertemuan kami berkurang, dan akhirnya benar-benar tak saling bicara. Benar-benar mengabaikannya, seseorang yang selalu ada di sampingku, yang selalu mengkhawatirkanku, yang selalu menjagaku, seseorang yang ternyata sangat kubutuhkan. Seseorang yang ternyata punya tempat di hatiku, bahkan menempati posisi yang lebih penting dari Nara, pacar pertamaku.
“Bego...” tangisku semakin keras
“Eh???” kali ini dia benar-benar kebingungan. Kulepaskan kedua tanganku yang ia genggam untuk menutup wajahku dan menangis sejadi-jadinya

“Kamu bego, Sam!!!”
“Hah?” kedua alisnya tertaut
“Kenapa ngga bilang kalo kamu suka sama aku???” kutoyor kepalanya dengan tangan kananku, lalu aku tertawa, sambil menangis.
“Aku...” ia mengusap dahinya, kedua matanya memandangi tanah di bawah kami. Pipinya memerah.
“Hahahahaaa”
“Apa?” ia memandangiku lagi, pipinya masih merah.
“Ekspresimu sekarang persis cewek-cewek pemalu yang ada di komik waktu ketemu cowok yang disukai.” Kuseka air mataku, entah air mata kesedihan yang tadi, atau air mata akibat aku menertawainya.
“Aku suka kamu” kali ini pipinya sudah tidak lagi memerah, ia memandangku lekat-lekat lagi. Aku berhenti tertawa, lalu tersenyum, kupandangi kedua matanya, lalu aku menghambur ke pelukkannya, dan kembali menangis.
“Bego!!!”

“Lho?” meskipun bingung, namun ia balas memelukku, kemudian tersenyum, dan aku tau aku tidak perlu menjawab pernyataan suka darinya, aku tau ia akan selalu ada di sisiku (kali ini di pelukkanku), menjagaku seperti biasa, melindungiku, menghiburku agar tidak menangis..... “Kamu mau es krim?” kujawab pertanyaannya dengan senyuman, dan kugandeng tangannya, lalu kami berjalan pulang
(kami mampir ke toko es krim di perjalanan pulang).

Sekian teman-temen kisah cerpen sedih dan romantis tantang bagaimana mengatakan Say Love, nantikan tulisan yang selanjutnya :)

Cerpen Sedih Banget Dika Sayang Ayah

Cerpen Sedih Banget Dika Sayang Ayah - Kumpulan cerpen sedih, cerpen pendidikan, cerpen anak, Cerpen romantis. Bagi temen-temen ini cerita pendek yang pantas untuk dibaca dan direnungi untuk kita semua... Cerpen ini mengisahkan atara anak dan ayahnya berikut kisah Cerpen Sedih nya...

Cerpen Sedih Banget Dika Sayang Ayah

Dika Sayang Ayah

“Sudah berapa kali aku katakan, bawa jauh-jauh anak cacat itu dari hadapanku,” Seorang lelaki berkata kasar pada seorang perempuan dan anak kecil yang menangis dalam pelukannya, Perempuan itu memeluk erat anak semata wayangnya yg ketakutan.

“Cukup Ray, kau tak perlu berkata kasar seperti itu,”Perempuan itu berkata tak kalah keras membuat lelaki yg terduduk dikursi ruang tengah itu menatapnya tajam, kemudian perempuan itu melanjutkan perkataannya,”biar bagaimanapun juga, ingatlah dia anakmu.”

“Haha, jangan bermimpi aku tak sudi memiliki anak cacat sepertinya,”Lelaki itu menghisap rokok yang baru dinyalakannya dan mengacuhkan keduanya.

“Kau benar-benar tak berhati,”Perempuan itu berkata sambil membawa anaknya menjauh dari suaminya. Nampak wajah kecewa sang istri akan sikap suaminya itu.

Ray dan Ria adalah pasangan suami istri yang hidup berkecukupan yang menetap dijakarta, dua tahun menjalani rumah tangga, akhirnya hadir buah hati ditengah kesunyian mereka, Andika Muhammad Navaro, atau Dika, ia lahir secara premature, dan saat lahirpun suatu keanehan terjadi, bayi mungil itu lahir tampa tangis, dan itu membuat Ria khawatir setelah melalui pemeriksaan ternyata anak mereka dinyatakan Bisu, sejak mengetahui bahwa Dika bisu, sikap Ray seketika berubah, entah malu atau apa, ia sama sekali tidak ingin mengakui Dika sebagai anaknya, walau begiitu Ria sangat menyangi Dika, baginya dika adalah Senyum untuknya.

Dika kini telah tumbuh menjadi anak yang tegar, usianya kini beranjak delapan tahun, walau bisu tapi ia tak pernah mengeluh, justru ia sangat ramah pada semua orang, hanya senyum yang selalu ia berikan pada mereka, senyumnya lebih dari sebuah kata yg terucap,Karena itu Dika sangat disayangi oleh para tetangga dan ia memiliki banyak teman.

Dengan berat hati Ria membawa Dika menjauh dari ayahnya,digenggmanya erat tangan dika yang kedinginan,Ria menuntun Dika berjalan kekamarnya dan membantunya berbaring diranjang, dengan cinta Ria mencium kening Dika yang mulai memejamkan matanya.
“Maafin mama Dika,apapun yang terjadi Dika harus selalu ingat, bahwa mama akan selalu ada disamping Dika,menjadi seseorang yg selamanya menyayangi Dika,” Ria meneteskan air matanya sambil terus mengelus rambut hitam Dika yang mulai tertidur.

========================

Dika berjalan seorang diri menuju Ruang tengah, malam ini seperti malam sebelumnya ia tak bisa tidur cepat,padahal waktu telah menujukkan pukul setengah sepuluh malam, tapi matanya masih sulit ia pejamkan, karena itu ia lebih memilih untuk menuntun televiisi saja diruang tengah.

Seketika langkahnya terhenti ketika melihat ayahnya tertidur pulas di depan televisi, Dika mengampirinya dan menatapnya dalam-dalam, seketika senyum terurai dari bibir tipisnya.

“Ayah Dika ganteng yah Tuhan,” hati kecil Dika berkata sambil menatap ayahnya yang tertidur pulas diruang tengah.

Dika menatap sekeliling mencari sesuatu,tapi Dika berjalan balik kearah kamarnya dan kembali lagi keruang tengah dengan selimut ditangannya.

Pelan-pelan Dika menyelimuti sang Ayah yg masih tertidur, lalu dika membersihkan beberapa bedu rokok yang terjatuh dilantai dan membuangnya keasbak dimeja samping.

Sudah beberapa minggu terakhir ini, Ray lebih memilih untuk tidur diruang tengah ketimbang dikamarnya bersama Ria, sepertinya keduanya masih saling marahan dan enggan meminta maaf. Dika tak tau mengapa sang ayah selallu tidur diruang tengah, saat ia mencoba menanyakan itu pada ibunya, dengan lembut ibunya menjawab,”Ayahmu harus mengerjakan beberapa pekerjaan, dan ia tak ingin mengganggu tidur ibu, karena itu ia selalu tertidur diruang tengah, karena kelelahan.”

==============================

Diary Dika (8thn)
Tuhan,mengapa tuhan menciptakan dika jika dika tak sempurna seperti mereka??
Dika tau Dika tak boleh menyesali apa yang telah dika miliki,bunda selalu ngajarin Dika agar selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki,walaupun itu tak seindah milik orang lain.

Dika gak sedih kok tuhan, Tuhan bisa lihat dika tersenyum sekarang, ini tulus loh J
Kalau dika sedih, bunda pasti sedih, karena itu dika akan selalu tersenyum didepan Bunda.
Tapi tuhan, apa suatu saat nanti ayah akan mencintai Dika,?
Kalau iya, kapan?

Dika udah gak sabar pingin ngerasain dipeluk ayah,dianterin ayah sekolah, dan main bola bareng ayah seperti anak lainnya.
Suatu saat nanti itu semua akan terwujudkan Tuhan??
Walaupun ayah benci Dika, sampai kapanpun Dika akan selalu mencintai ayah.

Dika sayang ayah..

==============================

Diary Dika (9THN)
Tuhan apa segitu bencinya ayah sama Dika,?
Lalu kenapa ayah begitu membenci Dika??

Apa Dika punya salah sama ayah, kalau iya Dika akan tulus minta maaf kok,Kalau memang kehadiran Dika buat ayah susah, Dika rela kok tinggal bareng tuhan,ambil ajah nyawa Dika, asal ayah gak benci lagi sama Dika.

Dika mau sekali ajah ayah peluk Dika saat dika ketakutan dan bantuin Dika ngerjain PR yang menurut Dika susah.
Tuhan apa mimpi Dika akan terwujud??

“Dika, kamu butuh uang untuk beli sesuatu?”Tanya Ria sambil menatap Dika yang mengangguk.
Ria menghentikan memotong sayur dan menatap Dika yang berdiri disampingnya.
“Memang uang itu untuk apa?”Tanya Ria lembut membuat Dika terdiam sejenak.

“A..A..A..” Dika mencoba menjawab pertanyaan sang bunda membuat Ria menatapnya gemas.
Ria tersenyum tipis mencoba mengerti apa yang ingin diutaran Dika,”Kamu butuh berapa?”Ria menatap Dika yang mulai berhitung dengan jemari tangannya.

Dika mengangkat lima jari tangan kanannya keatas dada dan bulatan dijari tangan kirinya,” i..aa.. a...us..”
Ria mencoba menerka angka yg tercipta dijemari keduatangan Dika,”Lima ratus ribu?” Tanya Ria membuat Dika mengangguk cepat.

Ray mencari sepatu hitamnya dideretan sepatu yang terpanpang disudut ruangan..
“Ria, sepatu kerjaku Mana?” Tanya Ray setengah berteriak pada Ria yg sedang memasak didapur,
Terdengar samar2 sahutan dari dapur,” Bukannya sepatu kerja kamu udah rusak,”

Jawaban Ria itu membuat Ray menarik nafas panjang.. bagaimana ia bisa lupa, untuk membeli sepatu kerja yang baru, kalau begini bagaimana bisa ia berangkat kekantor.
“U..at.. a..yah...” Dika menyodorkan sebuah kotak sepatu ke arah Ray yg menatapnya tajam.

Ditatapnya kardus sepatu hitam yg kini berpindah ketangannya.
“nyuri dimana kamu?” Pertanyaan Ray membuat Dika mengelengkan wajahnya cepat.
“I..KA.. A..U..LI..” Kata2 Dika membuat Ray menatapnya tajam.
Seketika sebuah tamparan mendarat tepat dipipi putih Dika,” sejak kapan, kamu belajar jadi pencuri huh?” teriak Ray keras membuat Dika menunduk.

“Ray, apa-apan kamu,” Ria menghampiri keduanya dan menatap dika yg menunduk.
“Liat anak kamu, masih kecil udah belajar jadi pencuri,” Ray mendorong tubuh kecil dika hingga terjatuh.
“Cukup Ray, jaga kata2 kamu, Dika gak mungkin mencuri.”
“Kalau begitu dari mana, dia bisa dapat uang sebanyak itu buat beli sepatu, huh?”

Ria menahan amarahnya dan membantu Dika berdiri,”asal kamu tau, uang itu aku yang kasih, dan aku gak pernah menyangka kalau uang yg aku kasih itu dika gunakan untuk membeli sepatu kerja untuk kamu,”
Ray menatap Ria tajam yg masih bicara.

“Dan kamu tau berapa harga sepatu itu, lima ratus Ribu, aku hanya memberi dika tiga ratus ribu dan sisanya Dika ambil dari uang tabungan dia, dika rela gak jadi beli robot-robotan demi beliin sepatu kerja baru buat kamu, dan kamu masih bisa-bisanya bilang kalau dika itu pencuri.”

Ray mengembalika kardus sepatu ketangan Ria,” hari ini aku bolos kerja, dan bilang sama anakmu, berhenti bersikap baik padaku, karena aku tak butuh semua itu,” Ray berkata sambil berlalu dari hadapan Ria dan Dika. Ria mengelus pelan pipi Dika yg seketika memerah akibat tamparan Ray.
“Maafin ayah kamu yah?”
Dika hanya mengangguk dan lagi-lagi ia tersenyum. Dika adalah senyum kebahagian Ria, sekarang dan selamanya.

=====================================================

Diary Dika (10thn)
Tuhan, hari ini Dika kenaikan kelas,Dika senang banget karena dika juara kelas,makasih yah tuhan, karena tuhan dika jadi semakin disayang sama bunda. Walaupun ayah gak datang waktu pembagian rapot,tapi Dika cukup senang kok, setidaknya nanti dirumah Dika bisa kasih tunjuk ayah nilai rapot Dika. Biar ayah bangga dan gak benci lagi sama Dika.

“Bunda bangga sama kamu Dika,”Ria berkata sambil menciumi rambut hitam Dika. Dika tersenyum senang.
Mereka telah tiba dirumah, tak sabar rasanya Dika ingin memberitaukan ayahnya bahwa ia juara kelas.
Dika mencari ayahnya disemua ruangan tapi ia tak mendapati Ray dimanapun, Dika terduduk sedih diruang tengah.

“Tuhan ayah Dika dimana?, kenapa ayah pergi padahalkan Dika mau ngasih tunjuk ayah hasil rapot Dika..” Dika menatap sedih rapot merah ditangannya.
Tak beberapa lama, Ray tiba dari arah timur, Dika tersenyum menyamut kedatagan sang ayah yang telah dinantinya sedari tadi.

Dika berdiri dari duduknya, ditaruhnya rapotnya dimeja samping, Dika menyalami tangan sang ayah yang menatapnya tajam, dituntunnya sang ayah higga tepat didepan kursi panjang.
Ray terduduk, espresi wajahnya masih datar, Dika membantunya membukakan sepatu dan juga jas yang Ray kenakan.

Dika berlalu dengan memegang sepasang sepatu ditangan kanannya dan jas hitam ditangan kirinya, mencoba menaruh jas dan sepatu itu ditempat biasa.
Sepergian Dika, Ray menatap Rapot merah disampignya. di raihnya rapot itu dan mulai memperhatikan setiap nilai yang tertera disana.

Tak ada nilai merah satupun, tapi tetap saja espresinya tak berubah.
Dika kembali degan secagkir kopi ditangannya, cangkir itu seraya ia letakkan diatas meja. Dika menatap sang ayah yang sedang memeperhatikan nilai Rapotnya, iapun tersenyum senang.

“Tuhan, sebentar lagi pasti ayah Dika bakal bangga sama Dika,” hati kecilnya berkata riang, tak sabar ia menunggu sang ayah mengatakan sesuatu untuknya.
Ray menutup Rapot ditangannya dan menatap Dika yang telah anteng duduk disampingnya.

“Kamu nyontek lagi?” pertanyaan Rya itupun seketika membuat Dika menggeleng.
Ria tiba menghampiri sang suami dan anaknya, “Ray, kamu gak ucapin selamat buat Dika?” Ria berdiri didepan Ray yang masih terduduk, sebetika Ray menatapnya tajam.

“Untuk apa, tak ada yang perlu dibanggakan dari hasil sebuah contekan.” Ray meraih sebutung rokok dari kemeja putihnya. Ria menatapnya geram.

“Dika tidak menyontek,nilai itu hasil kerja keras dia sendiri,” Bela Ria keras.
Dika menunduk, harapannya untuk membuat ayahnya bangga ternyata gagal lagi.
Setiap tahun memang selalu itu yang ray katakan, saat Dika mendapat nilai plus.
Mencontek??? Ray selalu bertanggapan bahwa hasil plus yang didapatkan Dika adalah hasil contekan,
“Dia itu Bisu, gak mungkin dapat nilai plus kalau tidak hasil contekan,” Timbal Ray lagi,

======================

Dika terduduk dibangku panjang lapangan sekolahnya.. ditatapya sekeliling, diriya yag tak sempurna dalam berucap, membuat sang bunda menyekolahkannya disekolah khusus anak-anak tak sempurna sepertinya atau lebih dikenal dengan sebutan sekolah luar biasa.

Anak-anak itu sama sepertinya, sebagian ada yang bisu, atau mungkin keterbelakangan mental, tapi satu yang membuat Dika sedih, megapa mereka masih bisa tersenyumm riang dan bercada gurau bersama sang ayah, sementara dirinya tidak??
Sebuah bola bundar dipeluknya erat, sesekali ia megkrucutkan bibirnya, ia ingin seperti mereka bermain bersama sang ayah dan tertawa riang..

“Ayah, wahyu gak bisa,” Seorang anak dengan tongkat ditangannya sebagai penyaggah kakinya yang tak sempurna atau lumpuh berkata pada sang ayah yang sedang mengajarinya menendang bola dengan kaki kirinya.

“Kalau wahyu berusaha pasti wahyu bisa,ayah selalu disini untuk Wahyu,” sang ayah tak henti-hentinya menyemangati sang anak yang mengangguk.
Wahyu berusaha mecoba, menendang bola didepannya dengan kaki kirinya, tapi bola itu tak bergerak dan justru Wahyu yang terjatuh.

“Wahyu!!” Sang ayah menghampiri sang anak cemas, diraihnya tangan mungilnya dibantunya berdiri, kemudian sang ayah mengobati luka dilutut kaki wahyu yang kesakitan.
Dika mengalihkan padangannya, menengok kekiri, pemadangan itu hanya membuatnya iri.

“Cinta ingin ice Krim?”
Lagi-lagi kemesraann ayah dan anak terlihat jelas didepan matanya.
Anak perempuan seusianya yang tak dapat melihat hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaan sang ayah yang meggenggam tangannya.

“Dua yah, stawberry dan vanila,” Cinta berkata Riang pada sang ayah yang tersenyum.
Lagi-lagi Dika membuang nafasnya berlahan, setiap hari memang inilah yang selalu dilihatnya setiap kali tiba disekolah.
Tuhan, kapan Dika bisa seperti ,mereka, bermain bola bersama ayah dan ayah membelikan Dika ice krim??
Apa Dika dosa tuhan, jika Dika iri sama mereka???

Dika melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar orangtuanya, bola bundar itu masih dalam dekapannya, rencananya Dika ingin mengajak sang ayah bermain bola, siapa tau kali ini ayahnya tak menolak seperti kemarin-kemarin.

Dika telah tiba didepan pintu kamar, menatap kedalam ruangan yag kebetulan terbuka, dilihatnya sang bunda dan ayahnya yang sedang berdebat. Dika terdiam dan mendengarkan setiap kkata yang mereka debatkan.

“Sampai kapan kau akan sekejam itu pada Dika, ingatlah Ray dia itu anakmu,” Ria berkata keras, ia menatap Suaminya yang berdiri memebelakanginya.
Kedua tangan Ray ia tekuk da letakka didada, “Sudah berapa kali aku katakan, anak bisu itu bukan anakku.”
Mata Dika berkaca-kaca saat pendengar perkataan Ray itu, Bola dalam genggamannyapun terjatuh seketika.

“Tapi Dika sangat mencintaimu, aku mohon jangan lukai Dika lagi Ray,” Suara Ria mulai bergetar, tapi Ray tak peduli, hati dan perasaannya tetap enggan mengakui Dika sebagai anaknya.

“Aku tak butuh semua perhatiannya, Dia itu bisu, apa yang bisa kubanggakan dari anak bisu sepertinya, dia hanya membuatku susah.”

“Ray, kau sungguh tak berhati.” Ria mengepalkan tangannya kesal, ingin sekali ia meampar wajah suaminya itu, tapi ia tak mampu.

“Katakan padanya untuk berhenti bersikap baik padaku, aku tak akan mencintainya sebelum ia benar-benar bisa berbicara.”

Diary Dika
Tuhan, sekarang Dika sadar kenapa ayah benci Dika, karena Dika bisu, benarkan Tuhan??
Ayah malu punya anak bisu macam Dika, ayah akan mencintai Dika jika dika udah bisa berbicara.
Dika bisu dan dika sadar selamanya Dika tak akan pernah bisa bicara.
Itu berarti selamanya ayah tak akan sayang sama Dika.
Tapi tunggu, bukankah keajaiban itu ada??
Tuhan, Dika pingin banget bisa bicara, dan bilang kalau Dika sayang ayah dan bunda.
Sehari ajah tuhan, Dika mohon.setelah itu dika bisu lagi juga gak apa2
Asal ayah bisa dengar kalau dika sayang ayah..
Dika percaya keajaiban karena Dika percaya Tuhan itu ada..


============================

“Bagaimana keadaan putra saya Dok?” Tanya Ria pada seorang Doktor yang menangani Dika.
Satu jam setelah Dika mencurahkan perasaannya pada Tuhan, ia merasakan sakit dikepalanya, karena tak ingin membuat sang bunda cemas, Dika memilih untuk tak menceritakan semuanya.
Dika membaringkan tubuhnya diranjang, sakit dikepalanya semakin terasa, ia menutup matanya berlahan, sebelum semuanya hitam dan gelap, Dika pingsan.

“Kondisi putra ibu sangat mengkawatirkan, putra ibu terkena tumor otak, dan kemungkinan sembuh sangatlah minim,”
Seketika tubuh Ria melemas mendengar pengakuan sang doktor, bagaimana bisa anaknya yang masih sangat kecil terserang penyakit mematikan seperti ini.

Ria terduduk disamping ranjang Dika, ditatapya Dika yang tertidur pulas, mungkin ia sangat lelah.
Ria mengelus lembut rambut hitam Dika, air matanyapun tak kuasa ia teteskan.

“Dika jangan takut, semuanya akan baik-baik saja, Bunda akan selalu disamping Dika sampai kapanpun, kalaupun nanti Dika pergi, Dika gak usah cemas, disana Tuhan pasti akan menjaga Dika, apapun yang dika minta pasti Tuhan beri,tapi Dika harus tetap kuat dan tersenyum.” Ria menghapus air matanya yang terjatuh, dengan lembut diciumnya kening Dika yang dingin.

“Bunda sayang Dika.”
Matanya memang terpejam tapi dengan jelas Dika mendengar setiap kata yang diucapkan sang bunda.

Diary Dika
Tuhan tumor otak itu apa?
Apa penyakit itu sangat parah??
Kalau tidak, kenapa bunda nangis waktu cerita tentang penyakit Dika?
Kenapa Doktor bilang sama bunda, umur Dika gak akan lama lagi??
Apa itu berarti Dika akan pergi??
Pokoknya Dika gak mau pergi, sebelum ayah sayang sama Dika.
Titik...

==============================

Dengan perasaan tak menentu, Ray melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah Dika, matanya menatap sekeliling, menyaksikan beberapa orangtua yang menunggu anaknya pulang sekolah.
Ini kali pertama ray menyembut Dika sepulang sekolah, kalau saja Ria tak meohon padanya dan menangis mungkin selamanya ia tak akan pernah menginjakkan kakinya disekolahh yang penuh dengan ketidaksempurnaan.

“Kamu pasti ayahnya Dika?” seorang perempuan seusia Ria berdiri didepannya, Ray mengangguk pelan.
“Tau dari mana?” tanyanya bingung.

Wanita itu tersenyum tipis, “Saya Lisa, gurunya Dika, dika cerita banyak tentang ayahnya yang tampan dan baik hati.”
Ray menghernitkan keningnya bingung, tampan dan baik hati, bagaimana bisa dika berkata seperti itu, mengingat dirinya yang selalu kasar pada Dika.

“Dika Bisu, dia gak mungkin mengatakan saya baik dan tampan.”
“Dika memang bisu, tapi dia tidak buta,” Lisa meraih sesuatu dari tas hitamnya, secarik kertas putih yang langsung ia sodorkan pada Ray.
“Dika selalu menulis dikertas itu, saat ingin berkomunikasi dengan saya.”
Berlahan Ray membacanya.

Bu guru ayah Dika tampan Loh, gak kalah dech ama david bekam (David beckham maksudnya),,
Selain itu ayah dika juga baik loh bu, walaupun ayah gak pernah nganter Dikka sekolah, tapi Dika tau suatu saat nanti pasti ayah mau jemput Dika pulang sekolah, terus main bola bareng Dika dan beliin Dika es krim...
Bu guru nanti kalau ketemu sama ayah Dika, bu guru gak boleh naksir yahh, Dika tau bu guru pasti jatuh cinta ama ayah dika yang ganteng dan baik, tapi ayah Dika udah punya bunda, bunda dan ayah akan selalu selamanya,,,

Bu guru, Dika sayang banget sama mereka... Dika pingin selamanya disisi mereka..
Disisi bunda Dika yang cantik dan ayah Dika yang baik dan ganteng...
Oh yah, Dika mau ucapin makasih ama bu guru, yang udah setia degerin setiap cerita Dika..
Dika juga sayang bu guru, nanti kalau Dika pergi, bu guru jangan lupain Dika yah, dan maaf kalau Dika punya banyak salah sama ibu.
bu guru, nanti kalaiu Dika benar-benar pergi, bu guru jangan cerita sama ayah yah, kalau Dika sering cerita tentang ayah, Dika gak mau ayah marah dan benci Dika,
Ini cukup jadi rahasia kita yah bu, Dika percaya sama bu guru.
Bu guru percayakan ayah Dika ganteng dan baik???

Entah mengapa setelah membaca semua yang dituliskan Dika diselembar kertas putih itu, air mata Ray seketika terjatuh.
Ini kali pertama Ray menangis, dan ia menangis karena Dika, mungkinkah ia telah menyadari kesalahan besar yang selama ini ia lakukan pada Dika??
Ia mengkapus air matanya, melipat kertas putih itu dan mengembalikannya pada Lisa yang langsung menerimanya.

“Saya tau, anda selalu kasar pada Dika, tapi saya salut, sebesar apapun anda membencinya, sedikitpun Dika tak pernah membenci anda, seharusnya anda bangga pada Dika, Dia adalah malaikat kecil yang tak berdosa,” Lisa menatap kearah Dika yang berlari kearah keduanya, dika tersenyum senang mendapati ayahnya menjemputnya.

Dika segera memeluk Ray senang sesampainya disana, Ray terdiam tak bersuara.
Dika memang sering memeluknya seperti ini, tapi kali ini pelukan itu begitu hangat dan nyaman, berlahan Dika melepaskan pelukannya.
Dika menatap Lisa yang buru-buru measukka kertas ditangannya kembali ketas hitamnya, ia tersenyum tipis pada Dika yang mencoba menuliska sesuatu pada kertas kecil yang diraihnya dari saku seragamnya. Tak beberapa lama kertas itu telah berpindah ketangan putih Lisa.

Bu guru, ayah Dika ganteng kan??

Lisa tersenyum lebar saat mendapati apa yang dituliskan murid kesayangannya itu. Lisa mengembalikan kertas itu kembali pada Dika, setelah ia menulis balasan untuk Dika dikertas putih itu. Ray menatap keduanya yang masih berkomunikasi lewat kertas.
Iya, ayah Dika tampan.. sangat tampan...

Iya sangat tampan dan baik, Dika bangga jadi anak ayah, sekarang teman-teman Dika pasti iri sama Dika , karena Dika punya ayah yang tampan dan baik.

Mereka yang sehharusnya bangga memiliki anak sepertimu Dika, ibu bangga padamu.

Terimakasih, Dika sayang BU GURU.

Ibu juga sayang Dika.

===============================

Sepajang perjalanan pulang, Rey terus menatap Dika yang berjalan disampingnya, senyuman senang tak pernah lepas dari bibirnya.
Dika melompat-lompat kecil, menendang pelan setiap krikil didepan kakinya, sesekali ia tersenyum pada sang ayah yang menatapnya tajam.

“Kamu kenapa?” Tanya Ray sembari berhenti dipinggir trotoar yang diikuti langsung oleh Dika.
Dika tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya, senyum manis masih menghiasi bibirnya.
Beberapa mobil dan kendaraan lainnya berlalu lalang didepan mereka, hingga lampu lalu lintas itu berubah warna merah, semua kedaraanpun terhenti..
Dika meyebrang santai disamping kiri Ray, Ray menatapnya sejenak, beberapa manusia ikut menyebrang bersama mereka, setibanya ditengah Ray mencoba meraih tangan Dika dan menggenggamnya.
Dika terdiam tak percaya, ini kali pertama sang ayah menggenggam tangannya, hati kecilnyapun berlonjak-lonjak kegirangan.
Hingga akhirnnya mereka sampai diseberang, sepanjang perjalanan tangan Ray tak pernah lepas dari jemari kurus Dika, merekapun tiba disebuah taman yang cukup besar, dan berhenti.
Taman ini memang selalu Dika lalui setiap kali pulang sekolah bersama bunda, dan taman inilah tepat Dika melepas kegundahan hatinya.

“Kamu mau ice krim?”Tanya Ray saat mendapati tukang Ice krim yang tak jauh dari tempat berdiri mereka, dengan cepat Dika mengangguk.
Ray melepas pegangan tangannya, “Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana!” seru Ray lagi pada Dika yang kembali mengangguk, Raypun segera berlalu menghampiri sang penjual ice krim.
Tak beberapa lama Ray tiba dengan ice krim coklat ditangannya, disodorkannya ice krim itu pada Dika sesampainya disamping anaknya. Dika meraihnya dan langsung menyantapnya. Untuk kali pertama Ray tersenyum tipis melihat Dika yang dengan lahapnya menyantap ICE Krim pemberiannya.Merekapun sempat bermain bola, sebelum kembali kerumah.
Entah mengapa hari ini sikap ray, sangat jauh berbeda, iapun tak malu megenalkan dirinya sebagai ayah Dika pd beberapa orang yang menanyakan mereka.
Dika tak menyangka apa yang ia impikan selama ini ternyata terwujud.

Dika terduduk dimeja belajarnya, kepalanya kembali terasa sakit, tapi ia tak peduli, ia berusaha menulis, mungkin itulah tulisan terakhirnya..

Tuhan, tadi ayah jemput Dika disekolah, Dika bahagia banget, teman-teman Dika pada iri kaarena ayah dikka ganteng.
Ayah juga bersedia main bola bareng Dika dan beliin Dika ice krim,
Pokoknya hari ini adalah hari terindah Dika.
Terimakasih tuhan, karena sekarang ayah Dika udah gakk benci lagi sama Dika.
Sekarang Dika udah siap pergi.

Dika berhenti meNulis sejenak, mengurut kepalanya pelan dengan kedua tangan kecilnya.
Tuhan, kenapa kepala dika sakit banget, apa sekarang Dika benar-benar harus pergi??
Walaupun berat tapi dika terima kok, ini pasti yang terbaik untuk Dika.
Eh tapi tunggu, Dika mau nyampein dulu sesuatu.
Buat bunda, bunda adalah bunda terbaik diseluruh dunia,terimakasih untuk seMuanya.
Dika sayang sayang sayang banget sama bunda.
Dan untukk ayah, ayah taukan kalau dika sayang-sayang banget sama ayah,
Ayah janji yah gak akan ngelupain Dika.
Dika harus pergi karena Tuhan nunggu Dika disurga, apapun itu ayah harus tetap tersenyum dan jangan buat bunda Dika sedih yah..
DIKA SAYANG AYAH DAN BUNDA.
Permintaan terakhir Dika Cuma satu ya Tuhan...
Dika pingin banget punya adik, biar bisa nemenin bunda sama ayah dirumah.

===========================

Dika memang tak dapat bicara, cara inilah yang ia lakukan untuk dapat berkomunikasi dengan Tuhan-Nya,dan pada usia 11tahun2bulan10hari, Dika menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan senyum yang menghiasi wajah pucatnya.
Ray membaca semua yang ditulis oleh Dika pada diary biru itu,hatinya seketika tersentuh dan menyesali semua perbuatan kasarnya pada Dika.
Ray melihat gambar buatan tangan Dika dibagian akhir buku, lukisa seorang anak laki-laki yang bergandengan tangan dengan seorang lelaki bertubuh tinggi, dibawah gambar itu terdapat sebuah tulisan kecil...
Dika dan ayah...!!
Dika akan selalu menggenggam tangan ayah, sampai ayah tua nanti.

Ray tak kuasa meneteskan air matanya,bagaimanabisa ia menyia-nyiakan anak sebaik Dika.
Ditatapnya sekeliling kamar Dika yang kini seakan sepi, padahal biasanya setiap Ray pulang kerja ia selalu saja mendengar Dika yang sibuk menghafal kunci gitar, bayangan Dika tersenyum, tertawa berlari kecil megelilingi Ray, terliang jelas dimatanya.
Semuanya telah terlambat, dika telah pergi dan ia tak akan kembali lagi.
Ditaruhnya bbuku itu diatas meja belajar Dika, lalu Ray meraih kkotak sepatu yg sempat ia tolak dari Dika, ray terduduk dipinggir ranjang Dika, dan mecoba menjajalkan sepatu hitam itu, sedikit kebesaran memang, tapi Ray sangat menyukainya.

“terimakasih Dika untuk semuanya, dan maaf bila selama ini ayah selalu kasar sama kamu, ayah menyesal telah melakukan semua itu, mungkin ayah adalah orangtua terkejam didunia ini, seharusnya ayah yang menggandeng tangan Dika dan nganterin dika sekolah, tapi justru ayahlah yang selalu membuat Dika menangis, seharusnya ayah saja yang pergi, bukan kamu dika, jalan kamu masih panjang, masih banyak ,mimpi yang harus kamu raih, Ayah sayang Dika.kamu dengar itu Dika, AYAH SAYANG DIKA.”
Air matanya mengalir bersama dengan suaranya yang bergetar.
Walaupun terlambat,tapi Dika cukup bahagia, karena sekarang ia tau, bahwa ayahnya sangat menyayanginya.
Kini senyuman yg selalu menghiasi keluarga kecil itu telah pergi, hanya tinggal kenangan manis disana. When the Smile’s Gone, you never know where to found it again?

5THN Kemudian..

Doa terakhir dika untuk memiliki adik akhirnya terkabulkan, setengah tahun setelah kepergian Dika, Ria dinyatakan hamil, Sembilan bulan kemudian, Ria melahirka bayi prempuan yang sangat manis, yang selalu mereka panggil Diana.
Kini diana tubuh menjadi anak yang cukup lincah, wajahnya tak jauh beda dengan Dika, ia selalu menampakkan senyum dibibir tipisnya.
5tahun berlalu sudah, walau sulit, kenangan tentang Dika sedikit terlupakan dengan kehadiran Diana.
Tapi sampai kapanpun, Dika tetaplah senyum untuk Ria dan Ray.

"CERPEN SEDIH BANGET"
Demikianlah Akhir cerita nya... Cerpen Sedih ini.... nantikan tulisan yang selanjutnya..

Kumpulan Cerpen (Sepatu)

Kumpulan Cerpen (Sepatu) - Koleksi Cerpen, Cerpen Romantis dan Cerpen Klasik. Cerita kreativitas anak muda, berikut kumpulan Kumpulan Cerpen terbaru selengkapnya dari Info Harian Terbaru...

Kumpulan Cerpen (Sepatu)

Sudah satu minggu rumah begitu sepi. Tak ada suara orang berbincang, tak ada suara televisi atau radio dinyalakan. Sepanjang waktu, dari pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam, hingga pagi lagi, yang terasa hanyalah dingin. Dan semakin dingin. Tak ada lagi kehangatan barang seteguk. Wangi aroma racikan bumbu yang dulu selalu tercium dari dapur di kala pagi kini telah sirna. Kata-kata rayuan untuk sarapan, apalagi.

Senandung lagu-lagu cinta disela gemericik air senyap sudah. Tiada lagi terdengar riuhnya canda tawa. Semua lenyap tertelan derasnya ombak kehidupan. Yang tinggal hanyalah derit pintu, mempersilakan nyonya rumah untuk keluar di kala pagi. Kemudian diam, menanti waktu hingga sang nyonya kembali di kala hari telah larut.

Rumah itu tak lagi seperti rumah pada umumnya. Bahkan penampilannya pun layaknya rumah tak berpenghuni. Debu tebal dimana-mana, pohon perindang di depan rumah yang tak terawat mulai mengering. Daunnya berserakan memenuhi halaman. Mungkin si pemilik rumah terlalu sibuk, tak punya waktu untuk urusan yang demikian.

Hampir bersamaan dengan kepergian Dina untuk KKN di Blora, kira-kira lima pekan yang lalu, Wening semakin giat memberikan ceramah kepada Sabar. Kepergian putri semata wayang mereka laksana sebuah kesempatan emas bagi Wening. Setiap sore setelah pulang kerja, ada saja tema untuk mengkhotbahi suaminya yang ia sebut sebagai pria tak bertanggung jawab itu. Semangatnya begitu menggebu-gebu. Kadang ia juga begitu ringan mengangkat telunjuknya untuk menuding muka Sabar di sela rentetan kalimat yang amat pedas itu.

Pagi ini di kantor, Wening terlihat begitu serius. Tangannya memegang sebuah benda. Matanya begitu teliti mengamat-amati benda itu. Benda yang sangat istimewa, salah satu pemberian Sabar dikala mereka menikah dulu. Benda yang sempat ia simpan selama dua puluh tiga tahun. Benda itu masih utuh, masih mulus. Warnanya pun masih sama seperti dulu di saat ia membukanya dari dalam kotak bingkisan berwarna merah jambu. Benda yang selalu rela diinjak-injak untuk melindungi tuannya. Benda yang sarat akan makna: sepatu.

Tadi, tergesa-gesa melangkah karena dipanggil atasan, Wening sempat hampir jatuh karena sepatu dengan hak setinggi lima belas centi yang dipakainya itu. Spontan, ia duduk di kursinya, mengusap-usap kakinya yang terkilir dengan balsam dan melepas sepatu itu. Ia taruh begitu saja sepatu itu di atas meja. Tiba-tiba bak kaset film yang diputar ulang, dalam otaknya mengalir deras ingatan tentang pesan yang tersimpan di balik sepatu dengan warna favoritnya: warna ungu.

Begitu jelas tergambar di dalam ingatan, bagaimana dulu ketika ia duduk bersanding bersama Sabar, untuk mengucapkan janji setia untuk saling menerima di dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, hingga maut memisah raga. Saat itu Wening begitu lantang mengucap janji sucinya.

Khotbah pendeta yang kala itu mengangkat tema Sepatu, seakan didengarnya kembali. Bergema begitu keras di telinganya. Dulu, ia mendapat bekal bagaimana ia harus bisa menjadi Istri: Ingat Suami Terus setiap haRI. Belum lagi bagaimana makna yang terkandung di dalam Sepatu. Pendeta mengatakan, pasangan suami-istri hendaklah seperti sepatu, yang tak pernah sama persis bentuknya, tetapi serasi. Tak pernah berganti posisi, namun saling melengkapi. Meski tak pernah berjalan bersama, tetapi selalu beriringan. Meski geraknya berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama. Selalu setara, sederajat, sama tingginya, tidak tinggi sebelah. Dan tak akan memiliki arti lagi jika pasangannya hilang.

Wening mendesah. Di tariknya nafas dalam-dalam. Air matanya tak tertahan. Jawaban “Ya, dengan segenap hati” yang begitu tegas ia sampaikan di depan altar dulu, kini terasa menyiksa batinnya. Sejak Sabar di PHK dua tahun lalu, Wening kehilangan keseimbangan. Ia merasa dirinyalah yang kini menjadi tulang punggung keluarga.

Mungkin ia merasa jenuh, tertekan. Mungkin juga galau, atau apalah namanya.

Dulu gajinya selalu utuh 100% masuk ke dalam rekening pribadinya. Biaya hidup sehari-hari selalu bersumber dari penghasilan Sabar. Ia tinggal acungkan saja jarinya untuk menunjuk apa yang ia inginkan. Kini setelah Sabar di PHK, Sabar seperti menghambur-hamburkan uang. Usahanya untuk berwiraswasta selalu merugi. Dari bertani jamur hingga membuka usaha laundry, belum pernah berhasil. Mungkin karena ketatnya persaingan, atau mungkin juga belum rejeki. Yang jelas, Sabar tak pernah menganggapnya sebagai takdir. Terakhir, Sabar mencoba beternak itik. Sayang usahanya kali ini pun tak begitu menjanjikan, meski masih terus ia perjuangkan. Malang, pekerjaan ini bagi Wening dianggap begitu jorok. Membuatnya turun prestise di kampus. Bagaimana mungkin seorang pembantu rektor bersuamikan peternak itik? Apa kata mahasiswanya jika mereka tahu!

Tiga bulan berlalu, keadaan belum membaik. Semakin parah bahkan. Sore itu, tak disangka Pendeta bertandang kerumahnya. Menanyakan kabar, yang dijawab dengan begitu terbuka oleh Wening. Ia sampaikan segala isi hatinya.

“Sudah hampir dua puluh lima tahun saya memendam rasa ini!”

“Apakah Ibu sudah berusaha memaafkan kesalahan suami Ibu?”

“Ya, saya memaafkan. Dengan tulus saya maafkan. Tetapi saya sudah tidak tahan. Sudah hampir dua puluh lima tahun Pak!”

Pendeta itu dibuatnya bingung. Tak mengerti maksud kata-kata Wening. Bagaimana ia bisa mengatakan kesalahan Sabar telah ia maafkan jika ia memendam kepahitan itu? Bagaimana ia bisa mengatakan telah memaafkan tetapi tak pernah melupakan kesalahan-kesalahan Sabar yang tampak sepele? Kata-kata “hampir dua puluh lima tahun” selalu ia bawa. Apakah sepanjang kehidupan rumah tangganya ia tak pernah mencintai suaminya? Tak pernah merasa bahagia? Atau mungkin hanya karena ia kurang bersyukur?

Seperti kentang yang terus ditimbun ke dalam karung. Setiap Sabar melakukan sesuatu yang dianggap salah, Wening menambahkannya ke dalam daftar timbunan kesalahan Sabar. Yang pada akhirnya membusuk, berbau dan menjadi beban berat bagi dirinya sendiri.

Suasana menjadi beku. Kaku. Semua diam. Sesekali Sabar melirik istrinya. Wening masih terlihat garang, merah membara.

“Dina belum pulang?” Pendeta mengalihkan pembicaraan, mencairkan kebekuan.

“Wah...pulang malam itu biasa Pak, bagi Dina. Bahkan kadang sering tidak pulang.” Papar Sabar terang-terangan.

Ya, sejak Dina mencium aroma konflik antara ayah dan ibunya, ia sering menjadikan skripsinya sebagai alasan untuk pulang malam, bahkan tidak pulang ke rumah. Sebenarnya Ia merasa tersiksa dengan sikap ibunya yang terus-menerus menyulut bara di rumah itu. Maka dari itu ia lebih memilih untuk menyingkir. Ia kini juga telah berubah. Pembawaannya sedingin salju. Penampilannya lusuh, tak lagi rapi dan ceria seperti dulu.

Waktu terus bergulir. Matahari yang setia menjemput pagi tak mampu memberikan asa baru yang penuh harapan demi datangnya kehangatan cinta. Sabar harus semakin bertambah sabar karena kini Wening tak mengijinkannya tidur di dalam rumah. Teras rumah adalah pilihan kedua setelah dinginnya tempat jemuran di atas rumah tak sanggup ia taklukkan.

Tak mampu lagi ia sembunyikan ketidakharmonisan rumah tangganya di depan tetangga, yang curiga dengan tingkahnya.
“Belum tidur Pak?” tanya Badrun yang kebetulan melintas pada suatu malam.
“Belum, cari angin.”

Siapa percaya dengan omong kosong Sabar? Dinginnya malam menusuk tulang ia kata cari angin?

Sebenarnya Wening telah beberapa kali mengusir Sabar. Tetapi Sabar tak bergeming. Ia tak mau meruntuhkan rumah tangganya begitu saja. Di dalam benaknya, ia berharap agar suatu saat bisa kembali rukun dengan istrinya. Walau mungkin lebih tepatnya ia masih sabar menunggu sampai istrinya mereda. Meskipun dirinya tak pernah tahu entah kapan itu bisa terwujud.

“Apa yang kau tunggu? Angkat kaki dari rumah ini atau aku tusukkan juga pisau ini ke tubuhku!” ancam Wening suatu ketika

Kejadian itu semakin memperkeruh suasana. Hampir satu minggu Dina tak pulang. Apa yang telah ia saksikan di rumahnya sendiri terasa lebih mengerikan dari film horor yang pernah ia tonton di sepanjang hidupnya.

“Apa yang harus saya perbuat Pak? Saya tidak mau keluarga saya hancur hanya karena tingkah istri saya. Apakah saya salah jika memiliki usaha ternak itik? Apakah itu terlalu menjijikkan? Jorok? Hina? Selama ini saya juga berusaha menggantikan tugas istri saya mengatur rumah tangga. Mungkin memang sedikit aneh karena tugas kami seperti tertukar. Tetapi lihat sekarang! Sejak saya tak boleh masuk ke dalam rumah, bahkan tak boleh menyentuh perabotan di dalam rumah. Rumah tak lagi terurus, cucian menumpuk, debu dimana-mana, tak layak tempat tinggal itu di sebut sebagai rumah. Bahkan yang paling parah, sekarang anak kami satu-satunya, Dina, tak lagi tinggal bersama kami, entah dimana dia. Saya coba menghubungi nomor HPnya, saya cari dia ke rumah teman-temannya, saya tunggu dia di depan kampusnya, tetapi hasilnya nihil. Apa yang mesti saya perbuat Pak? Pasrah saya, pasrah...” Sabar mencurahkan isi hatinya kepada Pendeta.

“Tetaplah mengasihi dengan sabar, dan tetaplah berdoa” hanya itu pesan Pendeta. Singkat, tetapi tak mudah. Sabar diam, dalam hati ia berpikir, apa alasan orang tuanya dulu memberinya nama Sabar? Apakah memang untuk menanggung beban berat seperti yang ia terima sekarang?

Memaafkan dan melupakan setiap kesalahan yang dilakukan Wening, seakan harus menjadi menu wajib Sabar setiap hari. Bertemu tetapi tak ada senyuman, tatapan kasih, apalagi sapaan. Kadang Sabar merasa sangat disepelekan, direndahkan. Pepatah 'tak ada uang abang dibuang' adalah ungkapan yang sangat cocok untuk disandangnya sebagai gelar.

Sore hari, Wening pulang lebih awal dari biasanya. Sesuatu yang sangat tidak lazim. Apalagi ia terlihat begitu bersemangat untuk menemui lelaki lima puluh tahun yang masih sah sebagai suaminya itu. Wening menyapa Sabar dengan nada yang begitu lembut, dengan senyum simpul dibibir merahnya. Tanpa amarah. Akh... mungkinkah tirai mulai terbuka???

Mungkinkah sepatu pemberian Sabar berhasil mengingatkan Wening akan janji sucinya terhadap pernikahan yang telah ia sepakati tanpa paksaan di kala itu? Apakah Wening akan menggenapi pesan tersirat dari sepatu? Apakah Wening telah meruntuhkan keegoisannya? Atau mungkin ia telah menyadari bagaimana seharusnya ia menerima Sabar apapun dan bagaimanapun keadaannya? Bukankah ia masih sudi mengenakan sepatu pemberian Sabar itu?

Dengan menahan derai air mata Wening menghampiri Sabar dan berlutut didepannya. “Maafkan aku Mas, aku begitu egois. Kebersamaan kita selama ini tak kuanggap. Pengorbanan dan cintamu selama ini aku abaikan. Aku terlalu sibuk mengasihani diriku sendiri, sampai aku lupa segalanya,” aku Wening penuh penyesalan. Ia semakin tertunduk dan semakin membungkuk. Namun belum sampai ia mencium kaki suaminya, Sabar telah lebih dulu menarik bahu Wening, mengajaknya berdiri dan merapatkannya dalam dekapan.

“Disinilah tempatmu, bukan diujung kaki. Karena kamu adalah tulang rusukku, pelindungku,” bisik Sabar diakhiri dengan kecupan di kening Wening. Wening semakin terisak. Ia dekap erat tubuh Sabar sambil membisikkan: “Terima kasih untuk sepatu itu, sepatu itulah yang telah menyadarkanku Mas. Engkau memang begitu sayang padaku. Hanya saja aku yang selama ini tak mempedulikanmu...” “Sstttt... sudah!” Sabar menghentikan Wening. “Yang penting sekarang kita memulai hidup baru dan mengisi hari-hari kita dengan cinta.” “Dan aku mau memperbaharui janji kita supaya kita bisa mewujudkan janji kita untuk sepatu,” sahut Wening sambil menahan isak tangis. “Sejalan Sampai Tua,” ucap Sabar dan Wening bersamaan. Dari kejauhan Dina melihat ayah dan ibunya yang tengah berpelukan. Ia mendekat, namun tetap berusaha agar tak terlihat oleh Sabar dan Wening. Jantungnya berdegup kencang. Matanya basah. Ia berbisik lirih: “Terima kasih, Tuhan. Engkau baik!”

Penulis : Endang Lestari

Nah itu tadi fren "KUMPULAN CERPEN TERBARU" buat edisi selanjutnya nantikan episode selanjutnya yak...

Cerpen Bahasa Inggris By Prawesthi

Cerpen Bahasa Inggris By Prawesthi - Kumpulan Cerpen bahasa inggris, cerpen merupakan media sastra pengungkap ide atau gagasan. Kreativitas dalam menulis sebuah pemikiran yang tersalurkan melalui kata cerita, berikut sajian Cerpen bahasa Inggris Selengkapnya..


Cerpen Bahasa Inggris By Prawesthi


Sakura Biyori

I’m just a girl who believe in the sacredness of words spoken by the one I admired the most. The breeze of the wind spelled his name under my breath. And the sakura tree sincerely blooming its flower to accompany me and my belief, the sakura petals were dancing around me as the wind swirling created an elegant movement to amaze the smell of the spring. Me, myself, and I kept on believing the purity of this feeling would never change.

I stepped my feet closer to the big sakura tree I used to be here in my lifetime. There’s an empty wood bench fit for two persons in front of it, as if waiting for me and him to sit on it again, together....

“Otori-senpai...”

I sighed while staring at the bench, putting on a grim melancholy look.

I missed him no matter how often I think about him, no matter how often I go to this place wishing for the urge of this heart struggling its pain and loneliness to fade away as the shadow of his.

Wishing for the miracle to slowly approach me as the flashback of mine and his past played on this sakura scene.

~flashback~

The 10 years old me crying under the sakura tree, holding on my dirty torn teddy bear.
“Natsu-chan, are those girls did it to your doll?”

I saw a 13 years old skinny boy stood up in front of me staring at the girls laughing in the playground not far from the tree.
I did nothing but keep on dropping my tears while staring at him with a sad look.
He turned up his face to look at me with the hazelnut eyes behind his glasses.
“Did you defend yourself?”
I shooked my head. He gave a smirk.
“If they or anyone dare to bother you, you have to be brave in the future. Look at their face with such a courage and tell them to leave you alone.”

“Why should I?”

He stepped closer and reached my doll.
“Don’t you sad to see your kuma-chan badly torn up like this?”
I nodded
“That’s why, while you have mouth and voice to speak up, express your feeling! Let them know what you feel and what you want.”
He gave me a gentle smile I would never forget in my life. Since the time, I kept on believing what he said, to be a good and brave girl.

He was my senior, we went to the same school since elementary school until senior high school. We often sit together on the bench in front of the sakura tree after the schooltime to share our day story. We shared our day accompanied by the fragrance of sakura petals blooming beautifully under the warm of the sun light. Granted us comfort and happiness.

It was awesome until the day I upgraded to the second year of senior high school, and he graduated from senior high school.
We made a promise to meet under the sakura tree.

I sat on the bench, waiting for him. Then I saw the 18 years old boy walking closer to me, wearing his glasses he hid a secret behind his gaze. There’s a strange feeling I felt that day, yearning for the world to stop the time for just a second, but it’s just nothing but a wishful thinking. I looked at him and he stopped his step right 3 meters in front of me.

I stood up, staring at him for a while then started the conversation, wishing the strange feeling I felt was just an illusion.
“Otori-senpai...”
He was staring at me in silence, while I was staring at him with such a worried face.
He gazed the sakura petals above us, watching as the pink flowers falling to the ground.
He raised his hand forward, his palm upside, let the sakura petals landed on it. He grasped it, closed his eyes and made such a frown. It worried me so much....

“Senpai?”

I did nothing but stay on my place.
“Do you know what’s hard for me?”
He opened his eyes and demanded a response. I shooked my head.
“Leaving the place I loved, and buried all the memories inside it.”
I kept on silence, waiting for him to make everything clearer.
“Natsu-chan, I’m leaving Japan tonight.”

“Where’d you go?”

I’d try to keep looking at him through my blurry eyes, bothered by the tears I held back.
“Germany. I’ll go on my study there.”
“When will you go back?”
I faked a smile

He stared his feet, he shooked his head, implicitely said that he won’t come back.
My heart was trembling
“Did your parents made you to do that?”
He gave me a smirk, without looking at me. I suddenly felt that he was a stranger, I couldn’t recognize his heart anymore.
“I clearly remember that you’re the one who told me to express my feeling when I don’t like something and express it so others can understand what you feel and what you want.”

He stared me for a while, then he turned around and walked slowly.

“Otori-senpai!!”
He stopped, and turned his face on me without really saw me.
“Somehow when you’ve realized that you’re no longer a child, you have the things to be hidden and not expressing what you really feel.”

“Don’t be adult then!”
I begged in tears.

He smiled, his eyes softened
Take care, Natsu-chan...”

He stepped forward, left me alone under this sakura tree witnessed by the silence of the twilight breeze, blew the pink petals through my long black hair.

~end of flashback~

I looked up at the sky, the orange twilight and the breeze still the same as 3 years ago. The fragrance of the blooms, the sound of the memories keep on whispering its loneliness to me.
I smiled and sighed, then I turned around and slowly leaving the tree behind....
If there’s no eternity, then let me have this sakura tree to peek the memories I’ve ever had.

If people’s heart are change, then let me keep this belief by myself.

And if he needs to be an adult to hide his true feeling and sadness, then let me keep on being a child to honestly express my true feeling and wishing for the sadness to leave me behind.

The End

Nantikan Cerpen Bahasa Inggris By Prawesthi edisi selanjutnya ya sobat...:)
⬆
Top